Ngaji Filsafat Ramadan

Beberapa nasehat imam Malik kepada imam Syafi'i (muridnya): 

1. Biasakan dirimu untuk mengatakan tidak tahu.

Karena orang yang tidak terbiasa mengatakan tidak tahu, biasanya gengsi mengatakan tidak tahu. Jadi karena dia terlanjur merasa dirinya besar, merasa dirinya pintar, kalau ada pertanyaan kok gak bisa jawab, rasanya merendahkan dirinya. Akhirnya dia mengarang jawabannya. 

Maka Imam Malik menasehati imam Syafi'i, "Biasakan untuk mengatakan tidak tahu".

2. Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan cahaya di dadamu, maka jangan engkau padamkan dengan maksiat.

Jadi, imam Syafi'i adalah salah satu murid imam Malik yang sangat pintar, yang sangat TOP, dan murid yang bisa menjadi teman diskusi yang luar biasa. 

Imam Malik mengetahui bahwa ilmu adalah _Nur_ yang berarti cahaya. Maka orang pintar adalah orang yang bercahaya yang mampu menerangi sekelilingnya. Maka dia harus berhati-hati agar tidak mengurangi cahaya atau menghalangi cahaya sehingga terjadi kegelapan. Apa yang mengurangi intensitas cahaya dan mengubah cahaya menjadi kegelapan? Yakni kemaksiatan. Kemaksiatan dalam hal apapun.

Jadi imam Malik berpesan kepada imam Syafi'i, "Engkau ini orang yang bercahaya, karena Allah menganugerahkan cahaya di dadamu, jangan engkau padamkan cahaya tersebut dengan maksiat."

Semakin kita melakukan maksiat, semakin pula cahaya itu terhalang dan kegelapan mendekati kita.

3. Jadilah engkau orang yang paling banyak diam, diantara manusia.

Jika mereka benar, ikutlah didalamnya. Dan jika mereka salah, jangan ikuti mereka.

Nasehat imam Malik ini meminta untuk jadilah orang yang paling banyak diam, karena orang yang paling banyak diam adalah orang yang mempunyai kesempatan berpikir lebih banyak dibandingkan yang bicara. Karena orang yang banyak bicara kesempatan berpikirnya secara intensif berbeda dengan orang yang pendiam. Orang yang diam pikirannya kerja terus, sedangkan orang yang berbicara sambil mikir itu susah. Untuk itu jadilah orang yang paling banyak diam, mencermati lingkungan sekitarmu, kalau orang-orang disekitarmu benar ya ikuti, pun sebaliknya kalau salah ya jangan diikuti. Hal ini berarti "Mulutmu diam, tapi pikiranmu jangan."

4. Angkatlah tanganmu dari hidangan makanan saat keinginanmu untuk makan masih menggebu.

Dengan kata lain nasehat ini ingin agar imam Syafi'i jangan rakus, jangan serakah, jangan memuaskan egomu, jangan memuaskan keinginanmu. Harus punya daya pengendalian diri. Jangan sampai dikuasai oleh hasrat nafsumu. 

Mengangkat tangan dari hidangan makanan saat keinginan makan masih ada merupakan perbuatan yang berat. Belum kenyang, makanan masih ada, kalau mau nambah juga sudah siap. Menurut imam Malik jika kalian bisa berhenti dalam situasi tersebut berarti engkau punya kemampuan mengendalikan diri, hasrat dan nafsu jangan dimanjakan. Inilah salah satu jalan untuk mendidik diri. 

Sebagai contoh : 

Mungkin diantara kalian ada yang suka game, kalau sudah senang dan koutanya masih ada pasti bermain secara terus menerus dan menggebu-gebu. Adapun kaitannya dengan nasehat diatas bahwa meskipun koutanya masih banyak, saatnya berhenti ya berhenti.

Imam Malik dan imam Syafi'i adalah seorang guru dan murid yang sama-sama pintar dan luar biasa. Beliau-beliau ini mempunyai banyak pandangan yang berbeda. Dalam hal ini imam Syafi'i tetap menghormati gurunya yakni imam Malik, sebaliknya imam Malik menyayangi imam Syafi'i. Ada banyak cerita perbedaan pendapat diantara keduanya yang mana semuanya berakhir dengan kebahagiaan. Perlu kita teladani bahwa berbeda tidak harus konflik. Diantara cerita tersebut salah satunya; 

"Suatu ketika imam Malik bilang kepada imam Syafi'i terkait pandangannya tentang rezeki. Kata beliau imam Malik, rejeki itu datangnya tanpa sebab, orang itu cukup bertawakkal pada Allah, nanti Allah akan memberikan rezeki. Rumusnya lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus yang lainnya. Dalam hal ini imam Malik mengutip hadist Rasulullah bahwa kalau kalian bertawakkal pada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana rejeki burung yang pergi dalam keadaan lapar, lalu pulang dalam keadaan kenyang."

Jadi pendapatnya imam Malik bahwa rejeki itu tidak usah dicari, cukup orang itu jalankan tugasnya dengan baik. Yang menjadi guru, jadilah guru dengan baik, yang jadi petani kerjakan lahanmu dengan baik, soal rejeki berapa, seperti apa biar Allah yang mengatur. 


Naahh... Imam Syafi'i mempunyai pendapat yang berbeda dengan Imam Malik, "Wahai Syekh, kalau burung itu tidak keluar dari sarangnya bagaimana mungkin ia mendapatkan rejeki."

Kemudian suatu ketika imam Syafi'i berjalan-jalan melihat sekelompok orang yang sedang panen anggur, kemudian imam Syafi'i membantu panen tersebut. Setelah panen selesai, imam Syafi'i diberi imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. 

Dalam hal ini imam Syafi'i sangat senang karena mendapatkan anggur. Selain senang, beliau akan menunjukkan teorinya bahwa teori yang beliau miliki lebih benar. 

Selanjutnya datanglah imam Syafi'i ke gurunya dengan membawa anggur, ditaruhlah anggur tersebut di depan imam Malik, seraya menceritakan pengalamannya tadi. Imam Syafi'i bilang seandainya saya tidak keluar dari asramanya, dan membantu orang panen tadi, tentu saja anggurnya tidak pernah sampai dihadapan gurunya. 

Mendengar cerita imam Syafi'i, imam Malik tersenyum sambil mengicipi (memakan) anggurnya seraya berkata: 

"Hari ini saya tidak keluar kemana-mana, saya mengajar saja seperti biasa, tapi tadi aku mikir alangkah nikmatnya panas-panas begini ada anggur datang. Eh tiba-tiba kamu datang dengan membawa anggur." Kemudian Beliau membenarkan teorinya bahwa rezeki itu urusannya Allah. (Akhirnya keduanya tertawa bersama dengan menikmati anggur)


Dari cerita diatas, dapat kita ambil pelajaran bahwa meskipun berbeda pendapat akan tetapi berakhir dengan gembira dan bahagia bersama.


Komentar

Postingan Populer